“Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada Hari Ini Pulang ke Almamaternya”

Posted: March 2, 2012 in Uncategorized

Satu sesi yg sangat berkesan oleh Bapak Taufiq Ismail di FIM 11 adalah cerita tentang Kasim Arifin.

“Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada Hari Ini Pulang ke Almamaternya”

I

Dia mahasiswa tingkat terakhir

ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram

untuk tugas membina masyarakat tani di sana.

Dia menghilang15 tahun lamanya.

Orangtuanya di Langsa memintanya pulang.

IPB memanggilnya untuk merampungkan studinya,

tapi semua sia-sia.

II

Dia di Waimital jadi petani

Dia menyemai benih padi

Orang-orang menyemai benih padi

Dia membenamkan pupuk di bumi

Orang-orang membenamkan pupuk di bumi

Dia menggariskan strategi irigasi

Orang-orang menggali tali air irigasi

Dia menakar klimatologi hujan

Orang-orang menampung curah hujan

Dia membesarkan anak cengkeh

Orang kampung panen raya kebun cengkeh

Dia mengukur cuaca musim kemarau

Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau

Dia meransum gizi sapi Bali

Orang-orang menggemukkan sapi Bali

Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah

Orang-orang memasang dinding dan atapnya

Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka

Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika

Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital Jadi petani.

III

Dia berkaus oblong

Dia bersandal jepit

Dia berjalan kaki 20 kilo sehari

Sesudah meriksa padi

Dan tata palawija Sawah dan ladang orang-orang desa

Dia melintas hutan

Dia menyeberang sungai

Terasa kelepak elang

Bunyi serangga siang

Sengangar tengah hari

Cericit tikus bumi

Teduh pohonan rimba

Siang makan sagu

Air sungai jernih

Minum dan wudhukmu

Bayang-bayang miring

Siul burung tekukur

Bunga alang-alang

Luka-luka kaki

Angin sore-sore

Mandi gebyar-gebyur

Simak suara azan

Jamaah menggesek bumi

Anak petani mengaji

Ayat-ayat alam

Anak petani diajarnya

Logika dan matematika

Lampu petromaks bergoyang

Angin malam menggoyang

Kasim merebah badan

Di pelupuh bambu

Tidur tidak berkasur.

IV

Dia berdiri memandang ladang-ladang

Yang ditebas dari hutan rimba

Di kakinya terjepit sepasang sandal

Yang dipakainya sepanjang Waimital

Ada bukit-bukit yang dulu lama kering

Awan tergantung di atasnya

Mengacungkan tinju kemarau yang panjang

Ada bukit-bukit yang kini basah

Dengan wana sapuan yang indah

Sepanjang mata memandang

Dan perladangan yang sangat panjang

Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu

Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya

Bersama puluhan transmigran

Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang

Dikais-kaisnya tanah kering kerontang

Dan air pun berpacu-pacu

Delapan kilometer panjangnya

Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja

Mengairi tanah 300 hektar luasnya

Kulihat potret dirimu, Sim,

berdiri di situ Muhammad Kasim Arifin,

di sana,

Berdiri memandang ladang-ladang

Yang telah dikupasnya dari hutan rimba

Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor

Di padang rumput itu Rumput gajah yang gemuk-gemuk

Sayur-mayur yang subur-subur

Awan tergantung di atas pulau Seram

Dikepung lautan biru yang amat cantiknya

Dari pulau itu, dia telah pulang

Dia yang dikabarkan hilang

Lima belas tahun lamanya

Di Waimital Kasim mencetak harapan

Di kota kita mencetak keluhan

(Aku jadi ingat masa kita diplonco Dua puluh dua tahun yang lalu)

Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca

Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi

Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku

Ketika aku mengingatmu, Sim

Di Waimital engkau mencetak harapan

Di kota, kami …

Padahal awan yang tergantung di atas Waimital,

adalah Awan yang tergantung di atas kota juga

Kau kini telah pulang Kami memelukmu.

Bagian IV syair puisi ini dibacakan oleh sahabatnya, yakni Bpk Taufiq Ismail, pada hari wisuda Institut Pertanian Bogor di kampus Darmaga, Sabtu, 22 September 1979, sesudah Antua M. Kasim Arifin (lahir Langsa-Aceh Timur, 18 April 1938) menerima gelar “Insinyur Pertanian Istimewa”. Sebelumnya, Kasim yang sudah 15 tahun dikabarkan hilang (sejak melaksanakan Kuliah Kerja Nyata thn 1964 untuk memperkenalkan program Panca Usaha Tani) tapi ternyata menanam akar di Waimital – Maluku, sehingga enggan memenuhi panggilan Rektor Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Pada kali ketiga kedatangan utusan Rektor, yaitu sahabatnya Saleh Widodo, baru Kasim mau datang ke Bogor. Dia terharu karena penghargaan alma maternya, tapi pada hakekatnya dia tidak memerlukan gelar akademik. Pada hari wisuda itu Kasim yang berbelas tahun berkaus oblong dan bersandal jepit saja, kegerahan karena mengenakan jas, dasi dan sepatu, hadiah patungan sahabat-sahabatnya. Mahasiswa-mahasiswa IPB mengerubunginya selalu dan mengaguminya sebagai teladan keikhlasan pengamalan ilmu pertanian di pedesaan. Berbagai tawaran pekerjaan disampaikan padanya, tapi dia kembali lagi ke desa Waimital sesudah wisuda. Kemudian sesudah itu dia menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, di tanah asalnya (pensiun tahun 1994). Tawaran meninjau pertanian di Amerika Serikat ditolaknya. Ketika ditanya kenapa kesempatan jalan-jalan ke A.S. itu tak diterimanya, sambil tertawa Kasim berkata bahwa pertama-tama jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesianya saja sudah banyak lupa. Kemudian yang penting lagi, katanya, apa manfaatnya meninjau pertanian di sana, yang berbeda sekali dengan pertanian kita di sini. Kesempatan meninjau sambil liburan tamasya ke A.S. itu tak menarik hatinya…
Beliau memang telah lama tiada, tapi kisah inspiratifnya tetap selalu terkenang. Beliaulah Mahasiswa sejati, yang akan selalu dikenang di negeri ini…

Sumber 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s