SAMPAH & 3R

Posted: June 30, 2011 in Environmental Issues, My point of view

Saat ini sampah menjadi masalah penting yang memerlukan penanganan serius. Sampah menyebabkan berbagai masalah di antaranya: pencemaran lingkungan (pencemaran air, tanah dan udara), pemborosan energi (untuk pengangkutan/distribusi dan pengelolaannya), serta penumpukan sampah yang mengganggu keindahan dan menghabiskan lahan. Paradigma dan cara pengelolaan yang salah tentang sampah akan berdampak fatal. Biasanya kita berfikir bahwa ketika kita membuang sampah pada tempatnya itu sudah cukup. Padahal belum sama sekali, tindakan membuang sampah pada tempatnya sebenarnya hanya memindahkan sampah untuk dikumpulkan di TPA. Kalau begitu, mari kita berfikir, berapa banyak bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengangkut sampah, berapa besar pencemaran udara dan gas rumah kaca yang dihasilkan, berapa besar potensi bancana yang ditimbulkan (ingat peristiwa longsor dan meledaknya timbunan sampah di TPA Leuwigajah yang menyebabkan tewasnya 150 orang tewas, ratusan kehilangan rumah dan membutuhkan puluhan milyar dana untuk relokasi?)

Terdapat beberapa alternatif pengelolaan sampah, diantaranya: pembuangan sampah terpadu melalui TPA, Insinerator, PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) dan Sistem 3R (Reuse, Reduce dan Recycle). Pembuangan sampah secara kolektif sudah terbukti tidak efektif karena berujung pada pemborosan energi dan pencemaran udara (ujung-ujungnya sampah yang dibuang ke TPA akan dibakar). Sistem insinerator (hampir sama dengan PLTSa) menggunakan teknologi tinggi untuk membakar sampah. Pada saat sampah dibakar dengan suhu yang sangat tinggi (minimal 12000 C), banyak sekali potensi pencemaran yang mungkin dihasilkan seperti abu dan asapnya, selain itu biaya yang dibutuhkan untuk pengoperasiannya juga sangat mahal. Sistem 3R dianggap sebagai solusi terbaik pengelolaan sampah. Selain bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja, sistem ini juga dianggap paling praktis dan memiliki dampak paling kecil.

Apa itu 3R? Reuse yaitu kegiatan menggunakan kembali barang yang sudah tidak terpakai dan kemungkinan berpotensi menjadi sampah baik untuk fungsi yang sama atau berbeda. Kegiatan reuse bertujuan untuk memperpanjang usia pemakaian barang. Contoh kegiatan reuse, antara lain: menggunakan baterai yang dapat dicharge kembali, menggunakan kembali kaleng bekas susu untuk wadah minyak goreng, menggunakan wadah yang bisa dipakai lagi secara berulang-ulang, menghindari membeli barang sekali pakai, dsb. Reduce yaitu kegiatan pencegahan dan pengurangan pemakaian barang-barang yang berotensi menjadi sampah, contoh kegiatan reduce: membawa tubler/botol minuman, menggunakan 2 sisi kertas, dll. Recycle yaitu kegiatan mengolah sampah menjadi produk baru. kegiatan recycle dapat dilakukan dengan mengkompos atau menggunakan Keranjang Takakura, yang tentu saja tidak hanya berjasa mengurangi sampah tapi juga menghasilkan kompos. Sebenarnya recycle sendiri dibagi menjadi 2: upcycle (ketika barang yang dihasilkan mengalami penambahan nilai dari produk sebelumnya) dan downcycle (ketika barang yang dihasilkan mengalami penurunan nilai). Contoh dari downcycle adalah proses mendaur ulang kertas dan plastik. Ketika kita mendaur ulang kertas dengan kualitas bagus seperti kertas HVS putih, maka ketika didaur ulang kita tidak akan mendapat kertas dengan kualitas yang sama, kebanyakan kertas-kertas tersebut akan di daur ulang menjadi kertas buram atau tissu toilet, begitu juga dengan plastik. Beberapa barang yang bisa di-upcycle adalah kaca dan aluminium.

Masing-masing upaya 3R diatas memiliki kontribusi besar dalam hal pengurangan dan pengelolaan sampah. Namun menurut penulis, dari ketiga metode 3R di atas, Reduce merupakan kegiatan yang paling mudah dilakukan. Selain tidak membutuhkan dana dan usaha yang besar, kegiatan “mengurangi dan mencegah” ini juga memiliki dampak yang besar. Membiasakan konsep reduce berarti ada proses perubahan paradigma, mencegah lebih baik daripada menanggulangi. Ada beberapa langkah sederhana dan mudah yang bisa dilakukan untuk menerapkan metode Reduce, diantaranya:

1. Membawa kantong / tas belanja kemana-mana.
Kantong belanja terbukti merupakan sarana ampuh mengurangi potensi pemakaian kantong kresek. Kita bisa membuat kantong belanja sendiri dengan sedikit memodifikasi kain yang suah tidak digunakan lagi. Biasakan mengatakan TIDAK! ketika kamu ditawari kantong kresek.

2. Membawa Tumbler / botol minum
Selain menghemat, penggunaan tumbler akan sangat berjasa untuk mengurangi sampah plastik dari air minum kemasan. Sekedar info bahwa mulai dari proses pembuatan maupun pendaurulangannya, sampah plastik, termasuk botol plastik, membutuhkan energi dari minyak bumi dengan jumlah yang sangat besar. Padahal kita tahu bahwa minyak bumi termasuk sumber energi tak terbarukan, sehingga kita harus benar-benar bijak dalam penggunaannya.

3. Membawa kotak makan
Ketika berjalan-jalan ke suatu tempat biasanya kita akan tergoda dengan jajanan yang ada di pinggir jalan. Nah, kotak makan disini berfungsi untuk mencegah terpakainya plastik atau kertas untuk membungkus.

4. Membawa sapu tangan
Mungkin kita akan berpikir ulang dengan opsi ini, namun alangkah baiknya kalau kita tinjau kembali. Sapu tangan akan mencegah kita mengkonsumsi tissu seperti sehabis makan, pilek, dsb. Bagi teman-teman yang belum mengerti mengapa kita harus mengurangi pengguanaan tissu, mari kita cek bahan dasarnya. Ya, tissu terbuat dari serat kayu, bisa dibayangkan kalau dalam sehari kita menghabiskan 1 pack tissu, dalam seumur hidup, ada berapa pohon yang harus ditebang untuk kebutuhan akan tissu per individu.

5. Menggunakan 2 sisi kertas
Bagi mahasiswa yang sering mengerjakan tugas kuliah, ada baiknya kita mulai meloby dosen untuk memperbolehkan kita menggunakan 2 sisi kertas untuk mencetak, selain menghemat uang, kita juga bisa menghemat kertas (ingat efek domino yang mungkin timbul (penghematan kayu/pohon dan penghematan energi dalam proses pembuatan kertas). Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan kertas-kertas yang sudah tidak terpakai yang salah satu sisinya masih kosong, misal untuk menulis catatan, nota, dll.

6. Kurangi kebiasaan membeli pakaian dan barang elektronik
Gunakan pakaian semaksimal mungkin, perpanjang usia pakainya. Perlu kita kita ketahui bahwa pakaian yang kita kenakan membutuhkan proses dan energi yang besar dalam pembuatannya. Bisa kita bayangkan T-Shirt import yang kita beli mungkin sudah menempuh perjalanan ke beberapa negara dulu sebelum sampai si tangan kita (yang tentu saja membutuhkan bahan bakar sangat banyak serta menimbulkan pencemaran udara yang demikian besar). Begitu juga dengan barang elektronik, 1 buah Handphone / computer mungkin berasal dari berbagai komponen yang dihasilkan dari berbagai negara yang kemudian dirakit menjadi 1 dan kemudian hari terbang ke berbagai negara lagi untuk dipasarkan. Bisa dibayangkan berapa besar jejak karbon yang ditimbulkan?

7. Mambawa peralatan mandi pribadi kemanapun juga
Bagi kita yang hobi bepergian dan menginap di berbagai hotel, perlu dicatat bahwa pealatan mandi yang disediakan biasanya sekali pakai, maka alangkah lebih baik kalau kita membawa peralatan mandi sendiri.

8. Hindari pengunaan sedotan
Meskipun kecil dan sepele, sedotan tetaplah plastik dan memiliki potensi sangat besar menjadi sampah dalam hitungan menit. Bisa di bayangkan kalau rata-rata dalam sehari kita mengkonsumsi sedotan, maka paling tidak akan ada 230juta sampah sedotan di Indonesia dalam 1 hari saja. Jadi, biasakan berkata “gak usah pakai sedotan ya,Mas” kepada pramusajinya.

Nah, itu tadi adalah delapan hal simple yang sangat mungkin kita tindaklanjuti dan kita lakukan di kehidupan sehari-hari. Berangakat dari kesadaran bahwa masalah lingkungan adalah masalah paradigma, maka solusi paling baik adalah dengan merubah paradigma. Mulailah dengan hal-hal sederhana. Lakukan reduce semaksimal mungkin. Kalau orang bilang, jika kita mengerti “mengapa”, maka kita akan menemukan “apa” dan “bagaimana”. Begitu juga dengan masalah sampah, jika kita mengerti “mengapa masalah sampah sangat penting dan perlu penanganan serius” maka kita akan menemukan “apa cara terbaik untuk mengatasinya” dan “bagaimana kita bisa lebih bijak memandang dan memperlakukan sesuatu sesuai dengan dampaknya terhadap lingkungan.

Ayo lebih peduli!
Bukan untuk bumi kita, namun untuk kita dan anak-cucu kita.

Salam Green Lifesyle,

Ariyantika Wulandari

Project Division CEO Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s