OBRASS, 25 Januari 2011

Posted: June 30, 2011 in My point of view

Senang sekali bisa begabung di acara yang menarik ini. Suatu event unik yang digelar setiap seminggu sekali oleh DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda) dengan mengundang berbagai elemen masyarakat, seperti: sesepuh, masyarakat adat, organisasi rakyat, perwakilan masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat, Perguruan Tinggi, mahasiswa, budayawan dan seniman, serta perorangan, untuk bersama-sama membahas tentang isu-isu sosial yang terjadi di Kota Bandung. Suatu event menarik yang mungkin hanya ada di Bandung.  Menarik, karena berhasil mempersatukan sekaligus mengakomodir semua ide, kepentingan, masukan, pendapat dan solusi yang datang dari berbagai pihak tanpa memandang status sosialnya di masyarakat. Pemerintah dapat beinteraksi dan mendengar secara langsung pendapat rakyatnya. Masyarakat, aktivis, dan lembaga kemasyarakatan dapat mengkritisi sekaligus memberi masukan terhadap setiap kebijakan yang sudah maupun akan dikeluarkan oleh pemerintah, seperti dalam hal:  rencana PLTSa insenerator, Isu perubahan iklim, Akuntabilitas CSR, dll.

 

OBRASS kali ini, Selasa 25 Januari 2011 mengusung tema “KBU & Kontroversi Perluasan TAHURA (Taman Hutan Raya) Djuanda”. Kegiatan ini dijadwalkan untuk mengundang 7 agen yang terlibat secara langsung. Namun sayangnya ada 3 agen yang absen dan tidak bisa menyumbangkan pendapatnya. Bapak Anang, perwakilan Dinas Kehutanan, menyampaikan bahwa perluasan Tahura akan membawa banyak keuntungan di berbagai sektor, seperti: ekologi, sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan. Beliau juga menekankan bahwa tujuan utama perluasan Tahura ini adalah untuk menyelamatkan cekungan Bandung. Beliau menyebutkan beberapa permasalahan yang mungkin akan bisa diatasi dengan adanya program ini, seperti dalam hal isu tersedianya air bersih.

 

Agen lain yang hadir seperti LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), Beppedas, Masyarakat Lingkungan, Masyarakat Adat serta beberapa peserta yang lain juga ikut memberikan pendapat. Menurut LMDH, Tahura atau apapun namanya tidak masalah selama masyarakat tidak dirugikan atau terusir, tapi program tersebut harus bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat. Perwakilan Beppedas berpendapat bahwa kawasan hutan harus bisa berfungsi untuk menyelamatkan kawasan di bawahnya.

 

Pendapat yang lebih kritis datang dari beberapa masyarakat lingkungan. Mereka mengusung beberapa point diantaranya: menyetujui adanya konservasi lingkungan, namun mereka juga meragukan manajemen Kehutanan oleh pemerintah mereka juga menyayangkan belum jelasnya pembagian Job Desk. Sementara itu, ada opsi lain yang muncul dari masyarakat lingkungan yaitu adanya pengukuran secara independen melalui metode index carbon. Abah Dede dari masyarakat adat juga mengingatkan semua peserta untuk tidak main-main dengan hutan dan hendaknya memperlakukan hutan selayaknya “makhluk” dan bagian penting dari alam.

 

Meski OBRAS kali ini belum mencapai satu kesepakatan atau solusi karena masih ada 3 agen yang absen dan belum memberikan pendapatnya (Perhutani, Pemkab/Pemkot, dan 1 agen lagi), namun acara kali ini berlangsung cukup menarik dengan adanya komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat sehingga muncul beberapa wacana-wacana kritis dan klarifikasi dari kedua belah pihak. Dalam Obrass kali ini juga ditangkap harapan agar jangan ada konflik kepentingan disini. Pembinaan dan profesionalitas setiap elemen untuk tetap berjuang di koridornya masing-masing sangat diharapkan untuk percepatan penyelesaian masalah ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s