Adiba Belva Zhafira Arsy

Posted: July 21, 2013 in Me

Alhamdulillah…Alhamdulillah….Alhamdulillah…

Telah lahir melalui persalinan normal putri tercinta kami,

Adiba Belva Zhafira Arsy

DSC04204 - Copy

pada hari Rabu, 10 Juli 2013/

1 Ramadhan 1434 H

pukul 09.00

dengan berat 3,1 kg dan tinggi 48 cm

Nama adalah doa dan harapan. Begitupun kami dalam memberikan nama tentu memiliki pengharapan seperti yang tersirat pada arti dibalik setiap penggalan namanya:

Adiba: berasal dari bahasa Arab “Adib” yang artinya orang yang beradab, halus, sopan, berpengetahuan.
 
Belva: jujur, pemandangan indah, cantik.
 
Zhafira: berasal dari bahasa Arab yaitu Zhafir (ﻈﻔﻴﺮ) yg artinya selalu mendapatkan atau selalu berhasil atau dalam kata yang lebih sederhana yaitu beruntung.
 
Arsy: Singgasana Allah, makhluk paling tinggi, besar, luas, mulia. Arsy juga berasal dari penggalan nama kedua orang tuanya ARiyantika-SYarif. Arti lebih lengkapnya dapat dilihat disini.
 

Jadi melalui pemberian nama Adiba Belva Zhafira Arsy  ini, kami berharap dan mendoakan putri kecil kami kelak bertumbuh menjadi  seorang “putri cantik dari Ariyantika dan Syarif yang berpengetahuan luas dan selalu diselimuti keberuntungan.”

Aamiin, Insya Allah.

 

DSC04301

Bersama Mbah Yut

Bersama Mbah Yut

Baaa

DSC04214

DSC04346

DSC04347

DSC04384

DSC04410

DSC04412

DSC04443

Posted: December 17, 2012 in Uncategorized

follow4ku

1. Dalam isyarat Nabi tentang #Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati.

View original post 1,685 more words

Anak Dengan Roti Gandum

Posted: November 5, 2012 in Uncategorized

Image

Sumber Gambar

Pada suatu hari ada seorang anak yang memiliki impian untuk bisa menaiki kapal mewah yang kita kenal dengan Star Cruise. Untuk mencapai impiannya, anak ini bekerja dengan keras dan menabung sepanjang hdupnya untuk dapat mewujudkan impinnya tersebut. Ia menabung hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Pada suatu hari, tercapailah impiannya yang sudah terpendam sekian lama. Ia berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang kemudian ia pergunakan untuk membeli tiket 3 hari 3 malam untuk melakukan perjalanan ke suatu tempat yang sangat indah dengan menaiki Star Cruise super mewah tersebut. Namun tanpa disadari, anak ini hanya menyisakan sedikit uang saja untuk dapat bertahan hidup di atas kapal itu. Alhasil karena ia hampir mengorbankan seluruh uangnya, maka ia harus berhemat agar dapat bertahan  dalam perjalanannya. Lalu ia memutuskan untuk membawa bekal yang sangat terjangkau dan menurutnya cukup selama perjalanan di atas kapal, yaitu sekantong roti gandum. Kemudian ia memasukkannya ke dalam ransel.

Dan tibalah saatnya, ia berangkat menaiki kapal mewah tersebut dan memulai perjalanan 3 hari 3 malam. Pada hari pertama ia begitu takjub melihat banyak sekali orang yang kaya raya. Mereka mengenakan pakaian yang berkelas. Mereka menyantap makanan yang terlihat begitu nikmat, baik pagi, siang, maupun malam, di hotel yang sangat mewah di atas kapal tersebut. Namun anak ini hanya bisa memandang dengan kepala tertunduk bercampur perasaan yang lesu, iri hati dan sedih mendapati bahwa ia hanya memiliki sekantong roti gandum. Karena rasa minder yang luar biasa dalam benaknya, ia kemudian pergi ke sebuah pojokan yang tidak terlihat orang lain, dan mulai memakan roti gandumnya.

Hari kedua tidak bebeda jauh dengan hari yang pertam. Kembali ia melihat pemandangan seperti kemarin, kemudian beranjak ke pojokan lalu memakan roti gandumnya,

Begitu pula hal yang sama terjadi pada hari yang ketiga. Namun ada sedikit perbedaan pada hari yang ketiga, ternyata petugas kapal memperhatikan gerak-gerik anak ini dengan roti gandumnya dan menaruh curiga padanya. Kecurigaan petugas pada anak ini sebenarnya mudah saja, pikirannya bertanya-tanya mengapa di saat semua tamu kapal mengenakan pakaian yang mewah dan menyantap makanan di dalam hotel, ada seorang anak dengan pakaian compang-camping bagaikan pengemis dan hanya memakan roti gandum di pojokan selama 3 hari berturut-turut? “Pastilah anak ini tidak memiliki tiket” gumamnya. Dengan segera petugas kapal menghampiri anak ini dan berkata dengan tegas, “Nak mohon tunjukkan tiketmu.” Kemudian anak tersebut mengambil secark tiket dari ranselnya dan memberikannya kepada petugas kapal. Mendapati tiket tersebut, petugas kapal ini semakin bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa jika anak ini dapat membeli tiket 3 hari 3 malam untuk menaiki  kapal mewah ini, namun ia malah bersembunyi di pojokan dan hanya memakan roti gandum? Melihat wajah petugas yang kebingungan, lantas anak ini membuka mulutnya dan menceritakan, “Maaf Pak, Bapak mungkin bingung mengapa saya bersembunyi di pojok dan hanya memakan roti gandum yang memang sengaja saya bawa sendiri. Menaiki kapal mewah ini adalah impian saya sejak lama, dan seumur hidup saya habiskan untuk bekerja keras dan menabung agar bisa merasakan hebatnya kapal ini. Namun ketika saya membeli tiket, saya lupa akan makanan dan hanya menyisakan sedikit sekali uang untuk membeli makanan yang ada di sini. Dan tidak mungkin dengan sisa uang yang saya miliki sekarang ini mampu membeli makanan di kapal ini. Untuk itu saya membeli sekantong roti gandum yang cukup untuk saya bertahan hidup di sini selama 3 hari.

Seketika itu juga sang petgas kapal tertawa terbahak-bahak, kemudian ia berkata kepada anak tersebut, “Hei Nak, apakah kamu tahu, apabila kamu membeli tiket untuk menaiki kapal ini selama 3 hari 3 malam, itu sudah termasuk dengan selapa makanan, hotel dan seluruh fasilitas yang ada di dalam kapal ini.” Ketika mendengar perkataan petugas kapal tadi, anak ini begitu menyesal dan perasaannya ingin sekali untuk kembali ke hari pertama di mana ia menaiki kapal tersebut, namun sayangnya  tidak ada waktu yang bisa diputar kembali.

Image

Sumber Gambar

Nilai moral dari kisah di atas itu mirip sekali dengan kisah di dalam kehidupan kita masing-masing. Sering kali banyak orang yang telah membayar harga dari tiket tersebut. Sering kali orang bekerja keras dalam hidupnya mencapai apa yang menjadi impiannya. Namun yang mau saya katakan disini adalah, bekerja keras saja itu tidak cukup. Anda perlu merasa layak untuk bisa mendapatkan apa yang sudah Anda bayarkan, yaitu harga dari kerja keras Anda.

Leaders, sering kali kita sudah melakukan hal yang tepat, sudah mengerjakan hal yang benar, dan berjuang dengan sangat keras, namun kursi VIP yang sudah disediakan Tuhan untuk Anda, tidak akan pernah bisa Anda duduki, sebelum Anda merasa bahwa diri Anda layak duduk di sana.

(Bong Chandra, The Sciene of Luck: 10)

Belajar Goblok dari Bob Sadino (bgdbs) adalah buku yang menarik.  Di bagian-bagian awal dalam buku ini terdapat beberapa  pemikiran beliau yang kontroversi, bahkan sangat bertentangan dengan hal-hal yang sudah dianggap umum. Misalnya dalam hal pendapat beliau tentang sekolah formal.  “semua orang yang bersekolah formal terlalu banyak mengkonsumsi informasi basi“. Dia bahkan menyebut sekolah formal sebagai “belenggu”. Bob Sadino beranggapan bahwa harapan juga merupakan belenggu. “Terlalu banyak  harapan yang tidak sesuai kenyataan. Jadi ngapain berharap?.” Dia mengatakan bahwa untuk meraih sukses, seseorang harus membebaskan dirinya diri harapan. Berikut kuitipannya:

“Orang pintar basanya paling banyak harapannya. Bahkan maunya berhasil dalam waktu singkat. Padahal semua itu impossible! Orang goblok harapannya hanya satu: hari ini bisa makan!

Menurutnya menjadi pengusaha itu tidak ada syaratnya. Pengusaha itu harus bebas tekanan, merdeka, terserah mau kemana pun dia melangkah. Tidak boleh ada syarat. Tidak boleh ada kata “harus”. Harus begini, harus begitu, harus punya ini, harus punya itu. Karena semua keharusan itu merupakan hambatan.

Beberapa pemikiran tersebut terjawab di bagian akhir. Bagian yang paling menarik menurut saya. Bagian ini menjelaskan tentang gambar pada cover tentang 3 lingkaran yang melambangkan tiga tahapan kehidupan menurut  Bob Sadino:

  1. Lingkaran yang terbagi dua oleh garis dan masing-masing bagian berwana hitam dan putih.
  2. Lingkaran yang warnanya menghilang dan yang tersisa hanya garis kelokan  yang membagi dua lingkaran.
  3. Pada bagian ketiga garis pemisah pun lenyap, sehingga yang terlihat hanya lingkaran putih saja.

Image

Maksudnya?                                                                                            

                Lingkaran pertama terbelah oleh garis yang berkelok. Sisi sebelah kiri berwarna hitam, sedangkan sisi lainnya putih. Lingkaran ini menggambarkan bahwa pada tahap awal kehidupan seorang manusia, selalu melihat segala hal secara hitam putih, terang gelang salah dan benar. Pandangan hidupnya penuh dengan kesaklekan, pokoknya begini pokoknya begitu, saya benar dan yang lain salah. Seya melalui proses ini pada tahap awal kehidupan saya, demikian juga sebagian besar manusia.

Pada tahap awal ini, biasanya kita sering mengalami tekanan batin karena banyak hal yag tidak sesuai dengan pandangan kita. Kok banyak orang berbuat jahat? Kok tega-teganya mereka berbuat seperti itu? Tekanan juga muncul karena banyak harapan yang tidak menjadi kenyataan. Mau jadi pengusaha gagal terus. Tetap jadi karyawan stres juga. Pada tahap ini, hidup Anda hanya terdiri dari dua corak saja, hitam dan putih. Tidak berwarna! Ketika mendapat keberhasilan, Anda gembira bukan main dan merayakannya. Dunia seolah milik sendiri. Sebaliknya saat mengalami kegagalan, Anda bersedih. Dunia seperti kiamat, seakan-akan tidak ada harapan. Biasanya, seorng manusia melewati masa ini sejak lahir sampai usia 30-40 tahun.

                Pada lingkaran kedua ini, hanya terdapat sebuah garis berkelok saja, yang membagi dua lingkaran. Tidak ada lagi hitam dan putih di kedua bagiannya. Hidup menjadi abu-abu, ternyata yang salah bisa benar dan yang benar bisa juga salah. Yang selama ini dianggap 100 persen keliru, ternyata di dalamnya bisa juga berisi kebenaran. Ketika gelap, tidak sepenuhnya gelap karena ada sedikit cahaya terang. Malam yang berabad-abad lalu gelap gulita, kini bisa menjadi terang benderang selamanya. Pandangan hidup Anda berubah!

Kala mengalami kegagalan pun, Anda bisa memperoleh pelajaran berharga dari kegagalan tersebut. Saat gembira, mungkin saja terdapat bibit bencana. Semua hal mungkin terjadi meski secara kasat mata, tidak terlihat. Anda sudah berpikir lebih bijaksana, tanpa harus menanggalkan keyakinan, karena ternyata memang betul, yang salah belum tentu salah 100 persen, demikian pula yang benar. Anda masih banyak harapan atau impian, tapi tidak menjadi kecewa bila tidak tercapai. Anda masih punya nafsu, tapi bisa mengendalikannya. Biasanya, manusia mengalami fase seperti ini pada usia 40-60 tahun.

                Fase terakhir berupa lingkaran kosong, tanpa hitam putih dan tidak lagi terbagi dua. Dia polos. Bila Anda sudah memasuki fase ini, hidup sudah seperti air. Mengalir begitu saja. Kalau bertemu kayu, ditembusnya atau belok ke arah lain. Bila ada lubang, kadang dimasuki atau dilewatinya, tidak jarang pula berbelok. Bila ada ranting di tengah jalan, mungkin disingkirkannya. Kerap juga dia berbalik karena membentur dinding.

Hidup tidak lagi terbagi dua hal hitam putih salah benar terang gelap. Melainkan sama saja. Anda sudah ikhlas menjalani hidup tanpa ada lagi keinginan dan harapan. Anda pun sudah sepenuhnya menyerahkan jiwa raga buat yang Maha Kuasa. Istilahnya Anda sudah total surrender! Tidak ada lagi yang Anda cari dalam hidup ini, apalagi hanya sekedar materi. Anda sudah memasuki dunia wisdom. Dunia yang penuh dengan kebijaksanaan…

Biasanya, manusia baru bisa mencapai tahap ini pada usia di atas 60 tahun. Ironisnya banyak juga orang yang sudah berusia di atas 60 tahun, tapi masih bergerak pada fase lingkaran kedua. Bahkan mungkin di fase pertama. Saya perlu kasihan pada orang sepeti itu. Di sisi lain, ada juga anak muda – baru 20 – an tahun atau 30 tahun – tapi hidupnya sudah dipenuhi kebijaksanaan fase ketiga.

                Saya sudah berada di fase lingkaran ketiga sejak lama. Karena saya sudah tidak pernah berharap, tidak punya keinginan lagi, tidak punya tujuan dan tidak pernah punya rencana. Yang saya lakukan hanyalah mengalir saja, lakukan saja. Ikhlas dan total surrender.

Anda termasuk golongan yang mana?

(Belajar Goblok dar Bob Sadino, 139-141)

Posted: September 13, 2012 in Uncategorized

Official Blog of Pratama Yoga Nugroho

Saya mulai mengenalnya saat di semester 3, saat kami sama-sama masih menyandang status mahasiswa di Universitas Diponegoro. Sosoknya tampak sederhana. Kesederhanaannya membuat saya dan mungkin teman-teman lainnya menilainya dengan sederhana. Waktu pun berjalan dan penilaian saya tak berubah, hingga suatu siang saya melihat namanya dalam daftar peraih sebuah beasiswa di kampus. Di daftar itu ada namanya dan beberapa informasi lainnya; raihan prestasi akademik salah satunya. Demi melihat IPKnya saat itu, saya langsung sadar saya telah membuat kesalahan. Ia tak sesederhana seperti kelihatannya. Ia tak terduga dan pasti bukan sosok biasa.

Lalu kami menjadi dekat saat ia masuk ke dalam dunia organisasi: EDSA (Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris) dan BEM Fakultas Ilmu Budaya, di antaranya. Perannya cukup kentara dan gebrakannya kadang terduga. Pernah suatu waktu kami berbincang soal rencananya mengadakan sebuah seminar yang harga tiketnya dibanderol Rp 150.000,00. Saya ketar-ketir, namun ia tetap jalan terus, penuh optimisme. Hingga suatu siang, sehari…

View original post 428 more words

Tipe -Tipe Suami

Posted: March 12, 2012 in Uncategorized

Cerita ‘Aisyah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikisahkan dalam hadits yang lumayan panjang berikut ini.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَلَسَ إِحْدَى عَشْرَةَ امْرَأَةً فَتَعَاهَدْنَ وَتَعَاقَدْنَ أَنْ لاَ يَكْتُمْنَ مِنْ أَخْبَارِ أَزْوَاجِهِنَّ شَيْئًا

Sebelas orang wanita berkumpul lalu mereka berjanji dan bersepakat untuk tidak menyembunyikan sedikit pun cerita tentang suami mereka.

قَالَتِ الأُوْلَى زَوْجِي لَحْمُ جَمَلٍ غَثٍّ عَلَى رَأْسِ جَبَلٍ لاَ سَهْلَ فَيُرْتَقَى وَلاَ سَمِيْنَ فَيُنْتَقَلُ

Wanita pertama berkisah, “Sesungguhnya suamiku adalah daging unta yang kurus yang berada di atas puncak gunung yang tanahnya berlumpur yang tidak mudah untuk didaki  dan dagingnya juga tidak gemuk untuk diambil.

[Maksud perkataan di atas: Si wanita memisalkan suaminya dengan daging yang kurus, sedikit dagingnya. Lalu daging tersebut diletakkan di atas gunung yang terjal yang sulit didaki. Daging unta berbeda dengan daging domba atau kambing yang terasa lebih enak. Artinya, si istri ingin menyatakan sulitnya bergaul dengan suaminya. Ia tidak mengerti bagaimana cara yang baik untuk berbicara dengan suaminya karena suaminya buruk perangainya. Sudah dengan usaha keras, si istri ingin berhubungan baik dengan suaminya, ia tidak bisa meraih dan bersenang-senang dengannya.]

قَالَتْ الثَانِيَةُ زَوْجِي لاَ أَبُثُّ خَبَرَهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ لاَ أَذَرَهُ إِنْ أَذْكُرْهُ أَذْكُرْ عُجَرَهُ وَبُجَرَهُ

Wanita kedua berkisah, “Mengenai suamiku, aku tidak akan menceritakannya karena jika aku berkisah tentangnya aku khawatir aku (tidak mampu) meninggalkannya. Jika aku menyebutkan tentangnya maka aku akan menyebutkan urat-uratnya yang muncul di tubuhnya dan juga perutnya”.

[Maksud perkataan di atas: Ia mengisyaratkan bahwa suaminya itu penuh dengan ‘aib. Jika diceritakan, ia khawatir tidak akan ada ujungnya kisah tentang suaminya karena saking banyaknya ‘aib suaminya. Jika aibnya disebut maka akan nampak aib luar seperti urat di badan dan dalam tubuhnya seperti urat di perut. Ada pula yang menafsirkan, jika si istri menceritakan aib suaminya, maka ia khawatir akan berpisah darinya. Karena jika sampai ketahuan, suaminya akan menceraikannya dan ia khawatir karena masih ada anak dan hubungan dengan suaminya.]

قَالَتْ الثَّالِثَةُ زَوْجِي الْعَشَنَّقُ إِنْ أَنْطِقْ أُطَلَّقْ وَإِنْ أَسْكُتْ أُعَلَّقْ

Wanita ketiga berkisah, “Suamiku tinggi, jika aku berucap maka aku akan dicerai, dan jika aku diam maka aku akan tergantung”.

[Maksud perkataan di atas: Ia memaksudkan suaminya adalah suami yang berperangai buruk atau ada yang mengatakan bahwa suaminya itu egois (mementingkan diri sendiri). Ia mengetahui jika ia mengeluh kepada suaminya maka sang suami langsung menceraikannya. Namun jika ia berdiam diri maka ia akan tersiksa karena seperti wanita yang tidak bersuami padahal ia bersuami.]

قَالَتِ الرَّابِعَةُ زَوْجِي كَلَيْلِ تِهَامَةَ لاَ حَرَّ وَلاَ قَرَّ وَلاَ مَخَافَةَ وَلاَ سَآمَةَ

Wanita keempat berkisah, “Suamiku seperti malam di Tihamah, tidak panas dan tidak dingin, tidak ada ketakutan dan tidak ada rasa bosan”.

[Maksud perkataan di atas: Tihamah adalah suatu daerah yang ma’ruf. Malam di sana seimbang (tidak panas dan tidak dingin), cuacanya bagus dan bersahabat. Jadi si wanita menyifati suaminya yang pelembut dan berperangai baik. Si wanita selalu tentram, tidak penuh kekhawatiran ketika berada di sisi suaminya. Suaminya tidak ada rasa bosan dengannya. Istrinya merasakan keadaannya di sisi suaminya seperti keadaan penduduk Tihamah, suaminya menikmati hubungan dengannya seperti kenikmatan di Tihamah yang tidak panas dan tidak dingin serta dalam cuaca yang bersahabat.]

قَالَتِ الْخَامِسَةُ زَوْجِي إِنْ دَخَلَ فَهِدَ وَإِنْ خَرَجَ أَسِدَ وَلاَ يَسْأَلُ عَمَّا عَهِدَ

Wanita kelima berkisah, “Suamiku jika masuk rumah seperti macan dan jika keluar maka seperti singa dan tidak bertanya apa yang telah diperbuatnya (yang didapatinya)”.

[Maksud perkataan di atas: Cerita si wanita bisa jadi sebuah pujian, bisa jadi suatu celaan. Apabila yang dimaksud adalah pujian, maka ada beberapa tafsiran. Tafsiran pertama, suaminya disifatkan seperti macan karena biasa menundukkan dan menjima’ istrinya. Aritnya, istrinya begitu disayangi sampai si suami tidak kuat tatkala memandangnya. Jika keluar dari rumah, ia adalah seorang yang gagah seperti singa. Jika datang, ia biasa membawa makanan, minuman dan pakaian, jangan ditanya di mana ia memperolehnya. Tafsiran kedua, masih sebagai pujian. Jika ia memasuki rumah, seperti macan, yaitu ia tidak pernah mengomentari apa yang terjadi di rumah, adakah yang cacat, dan tidak banyak komentar. Jika ia keluar dari rumah, ia begitu perkasa seperti singa. Ia tidak banyak bertanya apa yang terjadi. Maksudnya adalah si suami begitu bergaul dengan istri meskipun ia melihat kekurangan yang nampak pada istrinya.

Adapun jika maksud perkataan si wanita adalah celaan, dapat ditafsirkan ia mensifati suaminya ketika suaminya masuk ke dalam rumah seperti macan, yaitu bersikap kasar, tidak ada muqoddimah atau ancang-ancang sebelum hubungan intim. Juga ia memaksudkan bahwa suaminya memiliki perangai buruk, sering menyiksa dan memukulnya tanpa bertanya padanya. Jika suaminya keluar dan istrinya dalam keadaan sakit lalu ia kembali, tidak ada perhatiannya padanya dan anak-anaknya.]

قَالَتِ السَّادِسَةُ زَوْجِي إِنْ أَكَلَ لَفَّ وَإِنْ شَرِبَ اشْتَفَّ وَإِنِ اضْطَجَعَ الْتَفَّ وَلاَ يُوْلِجُ الْكَفَّ لِيَعْلَمَ الْبَثَّ

Wanita keenam berkisah, “Suamiku jika makan maka banyak menunya dan tidak ada sisanya, jika minum maka tidak tersisa, jika berbaring maka tidur sendiri sambil berselimutan, dan tidak mengulurkan tangannya untuk mengetahui kondisiku yang sedih”.

[Maksud perkataan di atas: Ia mensifati suaminya yang biasa menyantap makanan apa saja dan banyak minum. Jika ia tidur, ia sering menjauh dari istrinya dan tidur sendirian. Ia pun tidak berusaha mengetahui keadaan istrinya yang sedih. Intinya, ia menyifati suaminya dengan banyak makan dan minum, serta sedikit jima’ (berhubungan intim). Ini menunjukkan celaan.]

قَالَتِ السَّابِعَةُ زَوْجِي غَيَايَاءُ أَوْ عَيَايَاءُ طَبَاقَاءُ كُلُّ دَاءٍ لَهُ دَاءٌ شَجَّكِ أَوْ فَلَّكِ أَوْ جَمَعَ كُلاًّ لَكِ

Wanita ketujuh berkisah, “Suamiku bodoh yang tidak pandai berjimak, semua penyakit (aib) dia miliki, dia melukai kepalamu, melukai badanmu, atau mengumpulkan seluruhnya untukmu”.

[Maksud perkataan di atas: Ia menjelaskan bahwa suaminya tidak kuat berhubungan intim dengan istrinya. Jika ia berbicara, ia biasa menyakiti kepala. Jika ia berhubungan intim, ia biasa memukul kepala dan melukai jasad.]

قَالَتِ الثَّامِنَةُ زَوْجِي الْمَسُّ مَسُّ أَرْنَبَ وَالرِّيْحُ رِيْحُ زَرْنَبَ

Wanita kedelapan berkisah, “Suamiku sentuhannya seperti sentuhan kelinci dan baunya seperti bau zarnab (tumbuhan yang baunya harum)”.

[Maksud perkataan di atas: Suaminya selalu bersikap lemah lembut dan bersikap baik pada istrinya.]

قَالَتِ التَّاسِعَةُ زَوْجِي رَفِيْعُ الْعِمَادِ طَوِيْلُ النِّجَادِ عَظِيْمُ الرَّمَادِ قَرِيْبُ الْبَيْتِ مِنَ النَادِ

Wanita kesembilan berkisah, “Suamiku tinggi tiang rumahnya, panjang sarung pedangnya, banyak abunya, dan rumahnya dekat dengan bangsal (tempat pertemuan)”.

[Maksud perkataan di atas: Suaminya itu termasuk orang terpandang, banyak tamu yang mengunjunginya sehingga ia pun biasa menyembelih hewan untuk menyambut tamunya. Ia pun dianggap mulia oleh keluarganya. Suamiya pun biasa didatangi oleh orang-orang yang ingin curhat berbagai masalah dan persoalan mereka. Ia terkenal dengan sifatnya yang mulia, orang yang terpandangan, berakhlak mulia dan memiliki pergaulan yang baik dengan sesama]

قَالَتِ الْعَاشِرَةُ زَوْجِي مَالِكٌ وَمَا مَالِكٌ؟ مَاِلكُ خَيْر مِنْ ذَلِكَ لَهُ إِبِلٌ كَثِيْرَاتُ الْمَبَارِكِ قَلِيْلاَتُ الْمَسَارِحِ، وَإِذَا سَمِعْنَ صَوْتَ الْمُزْهِرِ أَيْقَنَّ أَنَهُنَّ هَوَالِكُ

Wanita kesepuluh berkisah, “Suamiku (namanya) adalah Malik, dan siapakah gerangan si Malik?  Malik  adalah lebih baik dari pujian yang disebutkan tentangnya. Ia memiliki unta yang banyak kandangnya dan sedikit tempat gembalanya, dan jika unta-unta tersebut mendengar kayu dari tukang jagal maka unta-unta tersebut yakin bahwa mereka akan disembelih.”

[Maksud perkataan di atas: Suaminya memiliki banyak unta sebagai persiapan untuk menyambut tamu. Artinya, suaminya memiliki akhlak mulia, ia sering memuliakan para tamu dengan pemuliaan yang luar biasa].

قَالَتِ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ زَوْجِي أَبُوْ زَرْعٍ فَمَا أَبُوْ زَرْعٍ؟ أَنَاسَ مِنْ حُلِيٍّ أُذُنَيَّ وَمَلَأَ مِنْ شَحْمِ عَضُدَيَّ وَبَجَّحَنِي فَبَجَحْتُ إِلَى نَفْسِي

Wanita kesebelas berkisah, “Suamiku adalah Abu Zar’. Siapa gerangan Abu Zar’? Dialah yang telah memberatkan telingaku dengan perhiasan dan telah memenuhi lemak di lengan atas tanganku dan menyenangkan aku, maka aku pun gembira.”

[Maksud perkataan di atas: Maksudnya yaitu suaminya Abu Zar’ memberikannya perhiasan yang banyak dan memperhatikan dirinya serta menjadikan tubuhnya padat (montok). Karena jika lengan atasnya padat maka tandanya tubuhnya semuanya padat. Hal ini menjadikannya gembira. Merupakan sifat suami yang baik adalah menghiasi dan mempercantik istrinya dengan perhiasan dan memberikan kepada istrinya makanan pilihan. Sesungguhnya hal ini menjadikan sang istri menjadi sangat mencintai suaminya karena merasakan perhatian suaminya dan sayangnya suaminya kepadanya. Para wanita sangat suka kepada perhiasan emas, dan ini merupakan hadiah yang paling baik yang diberikan kepada wanita. Tubuh yang berisi padat (tidak kurus dan tidak gemuk) merupakan sifat kecantikan seorang wanita.]

. وَجَدَنِي فِي أَهْلِ غُنَيْمَةٍ بِشِقٍ فَجَعَلَنِي فِي أَهْلِ صَهِيْلٍ وَأَطِيْطٍ وَدَائِسٍ وَمَنَقٍ، فَعِنْدَهُ أَقُوْلُ فَلاَ أُقَبَّحُ وَأَرْقُدُ فَأَتَصَبَّحُ وَأَشْرَبُ فَأَتَقَنَّحُ

Ia mendapatiku pada peternak kambing-kambing kecil dalam kehidupan yang sulit, lalu ia pun menjadikan aku di tempat para pemilik kuda dan unta, penghalus makanan dan suara-suara hewan ternak. Di sisinya aku berbicara dan aku tidak dijelek-jelekan, aku dibiarkan tidur di pagi hari, aku minum hingga aku puas dan tidak pingin minum lagi.

[Maksud perkataan di atas: Maksudnya yaitu Abu Zar’ mendapatinya dari keluarga yang menggembalakan kambing-kambing kecil yang menunjukan keluarga tersebut kurang mampu dan menjalani hidup dengan susah payah. Lalu Abu Zar’ memindahkannya ke kehidupan keluarga yang mewah yang makanan mereka adalah makanan pilihan yang dihaluskan. Mereka memiliki kuda-kuda dan onta-onta serta hewan-hewan ternak lainnya. Jika ia berbicara di hadapan suaminya maka suaminya Abu Zar’ tidak pernah membantahnya dan tidak pernah menghinakan atau menjelekkannya karena mulianya suaminya tersebut dan sayangnya pada dirinya. Ia tidur di pagi hari dan tidak dibangunkan karena sudah ada pembantu yang mengurus urusan rumah. Ia minum hingga puas sekali dan tidak ingin minum lagi yaitu suaminya telah memberikannya berbagai macam minuman seperti susu, jus anggur, dan yang lainnya. Merupakan sifat suami yang baik adalah membantu istrinya diantaranya dengan mendatangkan pembantu yang bisa membantu tugas-tugas rumah tangga istrinya.]

. أُمُّ أَبِي زَرْعٍ، فَمَا أُمُّ أَبِي زَرْعٍ ؟ عُكُوْمُهَا رِدَاحٌ وَبَيْتُهَا فَسَاحٌ
ابْنُ أَبِي زَرْعٍ، فَمَا ابْنُ أَبِي زَرْعٍ؟ مَضْجَعُهُ كَمَسَلِّ شَطْبَةٍ وَيُشْبِعُهُ ذِرَاعُ الْجَفْرَةِ بِنْتُ أَبِي زَرْعٍ، فَمَا بِنْتُ أَبِي زَرْعٍ؟ طُوْعُ أَبِيْهَا وَطُوْعُ أُمِّهَا وَمِلْءُ كِسَائِهَا وَغَيْظُ جَارَتِهَا جَارِيَةُ أَبِي زَرْعٍ، فَمَا جَارِيَةُ أَبِي زَرْعٍ؟ لاَ تَبُثُّ حَدِيْثَنَا تَبْثِيْثًا وَلاَ تُنَقِّثُ مِيْرَتَنَا تَنْقِيْثًا وَلاَ تَمْلَأُ بَيْتَنَا تَعْشِيْشًا

Ibu Abu Zar’. Siapakah gerangan Ibu Abu Zar’?, yang mengumpulkan perabotan rumah, dan memiliki rumah yang luas.

[Maksud perkataan di atas: Ibu suaminya adalah wanita yang kaya raya yang memiliki banyak perabot rumah tangga didukung dengan rumahnya yang besar dan luas. Hal ini menunjukan bahwa sang ibu adalah orang yang sangat baik yang selalu memuliakan tamu-tamunya. Di antara sifat istri yang sholehah hendaknya ia menghormati ibu suaminya dan memahami bahwa ibu suaminyalah yang telah melahirkan suaminya yang telah banyak berbuat baik kepadanya. Kemudian hendaknya tidak ada permusuhan antara seorang istri yang sholehah dan ibu suaminya. Dan sesungguhnya tidak perlu adanya permusuhan karena pada hakekatnya tidak ada motivasi yang mendorong pada hal itu jika keduanya menyadari bahwa masing-masing memiliki hak-hak khusus yang berbeda yang harus ditunaikan oleh sang suami.]

ابْنُ أَبِي زَرْعٍ، فَمَا ابْنُ أَبِي زَرْعٍ؟ مَضْجَعُهُ كَمَسَلِّ شَطْبَةٍ وَيُشْبِعُهُ ذِرَاعُ الْجَفْرَةِ

Putra Abu Zar’, siapakah gerangan dia? Tempat tidurnya adalah pedang yang terhunus keluar dari sarungnya, ia sudah kenyang jika memakan lengan anak kambing betina.

[Maksud perkataan di atas: Putra suaminya adalah anak yang gagah dan tampan serta pemberani, tidak gemuk karena sedikit makannya, tidak kaku dan lembut, namun sering membawa alat perang dan gagah tatkala berperang.]

بِنْتُ أَبِي زَرْعٍ، فَمَا بِنْتُ أَبِي زَرْعٍ؟ طُوْعُ أَبِيْهَا وَطُوْعُ أُمِّهَا وَمِلْءُ كِسَائِهَا وَغَيْظُ جَارَتِهَا

Putri Abu Zar’, siapakah gerangan dia? Taat kepada ayahnya dan ibunya, tubuhnya segar montok, membuat madunya marah kepadanya.

[Maksud perkataan di atas: Ia adalah seorang putri yang berbakti kepada kedua orang tuanya sehingga menjadikannya adalah buah hati kedua orangtuanya. Ia seorang putri yang cantik dan disenangi suaminya hingga menjadikan istri suaminya yang lain cemburu dan marah kepadanya karena kecantikannya tersebut.]

جَارِيَةُ أَبِي زَرْعٍ، فَمَا جَارِيَةُ أَبِي زَرْعٍ؟ لاَ تَبُثُّ حَدِيْثَنَا تَبْثِيْثًا وَلاَ تُنَقِّثُ مِيْرَتَنَا تَنْقِيْثًا وَلاَ تَمْلَأُ بَيْتَنَا تَعْشِيْشًا

Budak wanita Abu Zar’, siapakah gerangan dia? Ia menyembunyikan rahasia-rahasia kami dan tidak menyebarkannya, tidak merusak makanan yang kami datangkan dan tidak membawa lari makanan tersebut, serta tidak mengumpulkan kotoran di rumah kami.

[Maksud perkataan di atas: Budak wanita tersebut adalah orang yang terpercaya bisa menjaga rahasia dan amanah. Seluruh kejadian atau pembicaraan yang terjadi di dalam rumah tidak tersebar keluar rumah. Ia sangat jauh dari sifat khianat dan sifat mencuri. Dia juga pandai menjaga diri sehingga jauh dari tuduhan tuduhan sehingga ia tidak membawa kotoran (tuduhan-tuduhan jelek) dalam rumah kami.]

قَالَتْ خَرَجَ أَبُو زَرْعٍ وَالأَوْطَابُ تُمَخَّضُ فَلَقِيَ امْرَأَةً مَعَهَا وَلَدَانِ لَهَا كَالْفَهْدَيْنِ يَلْعَبَانِ مِنْ تَحْتِ خِصْرِهَا بِرُمَّانَتَيْنِ فَطَلَّقَنِي وَنَكَحَهَا

Keluarlah Abu Zar’ pada saat tempat-tempat dituangkannya susu sedang digoyang-goyang  agar keluar sari susunya, maka ia pun bertemu dengan seorang wanita bersama dua orang anaknya seperti dua ekor macan. Mereka berdua sedang bermain di dekatnya dengan dua buah delima. Maka iapun lalu menceraikanku dan menikahi wanita tersebut.

[Maksud perkataan di atas: Abu Zar’ suatu saat keluar di pagi hari pada waktu para pembantu dan para budak sedang sibuk bekerja dan diantara mereka ada yang sedang menggoyang-goyangkan (mengocok-ngocok) susu agar keluar sari susu tersebut. Kemudian ia bertemu dengan seorang wanita yang memiliki dua orang anak yang menunjukan bahwa wanita tersebut adalah wanita yang subur. Hal ini merupakan sebab tertariknya Abu Zar’ untuk menikahi wanita tersebut, karena orang Arab senang dengan wanita yang subur untuk memperbanyak keturunan. Dan sang wanita memiliki dua anak yang masih kecil-kecil yang menunjukan bahwa wanita tersebut masih muda belia. Akhirnya Abu Zar’pun menikahi wanita tersebut dan mencerai Ummu Zar’]

فَنَكَحْتُ بَعْدَهُ رَجُلاً سَرِيًا رَكِبَ شَرِيًّا وَأَخَذَ خَطِّيًّا وَأَرَاحَ عَلَيَّ نَعَمًا ثَرِيًا وَأَعْطَانِي مِنْ كُلِّ رَائِحَةٍ زَوْجًا وَقَالَ كُلِي أُمَّ زَرْعٍ وَمِيْرِي أَهْلَكِ قَالَتْ فَلَوْ جَمَعْتُ كُلَّ شَيْءٍ أَعْطَانِيْهِ مَا بَلَغَ أَصْغَرَ آنِيَةِ أَبِي زَرْعٍ

Setelah itu aku pun menikahi seoerang pria yang terkemuka yang menunggang kuda pilihan balap. Ia mengambil tombak khotthi  lalu  membawa tombak tersebut untuk berperang dan membawa ghonimah berupa onta yang banyak sekali. Ia memberiku sepasang hewan dari hewan-hewan yang disembelih dan berkata, “Makanlah wahai Ummu Zar’ dan berkunjunglah ke keluargamu dengan membawa makanan”. Kalau seandainya aku mengumpulkan semua yang diberikan olehnya maka tidak akan mencapai belanga terkecil Abu Zar’.

[Maksud perkataan di atas: Ummu Zar’ setelah itu menikahi seorang pria yang gagah perkasa yang sangat baik kepadanya hingga memberikannya  makanan yang banyak, demikian juga pemberian-pemberian yang lain, bahkan ia memerintahkannya untuk membawa pemberian-pemberian tersebut kepada keluarga Ummu Zar’. Namun meskipun demikian Ummu Zar’ kurang merasa bahagia dan selalu ingat kepada Abu Zar’.

Yang membedakan antara Abu Zar’ dan suaminya yang kedua adalah Abu Zar’ selalu berusaha mengambil hati istrinya, ia tidak hanya memenuhi kebutuhan istrinya akan tetapi kelembutannya dan kasih sayangnyalah yang telah memikat hati istrtinya. Ditambah lagi Abu Zar’ adalah suami pertama dari sang wanita.]

قَالَتْ عَائِشَةُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم كُنْتُ لَكِ كَأِبي زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ

‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku bagimu seperti Abu Zar’ bagi Ummu Zar’.

Dalam riwayat lain Aisyah berkata

يَا رَسُوْلَ اللهِ بَلْ أَنْتَ خَيْرٌ إِلَيَّ مِنْ أَبِي زَرْعٍ

Wahai Rasulullah, bahkan engkau lebih baik kepadaku dari pada Abu Zar’” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubro 5: 358, no. 9139)

Kisah yang panjang di atas menunjukkan tipe-tipe suami, ada yang berakhlak mulia yang patut kita tiru dan ada yang perangangainya buruk yang harus kita jauhi.

Kisah ini juga menunjukan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang selalu sayang dan perhatian kepada Aisyah. Berbeda dengan sebagian suami yang kasih sayangnya kepada istrinya hanya pada waktu-waktu tertentu saja, dan pada waktu-waktu yang lain tidak demikian. Kisah ini juga mengandung pelajaran bahwa sebaiknya suami berusaha untuk memperhatikan dan menyimak curhatan istrinya, meskipun agak lama seperti dalam kisah ini.

 

Sumber

Referensi:

Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah, 3: 204-211.

Saat ini, sebelum kita mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.

Sebelum kita mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum kita mengeluh tidak punya apa-apa,
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

Sebelum kita mengeluh bahwa kita sedang kacau & galau,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk
didalam hidupnya.

Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri kita,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan
teman hidup.

Hari ini sebelum kita mengeluh tentang hidup,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat

Sebelum kita mengeluh tentang anak-anak kita,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi
dirinya mandul

Sebelum kita mengeluh tentang rumah yang kotor karena pembantu
tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

Sebelum kita mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan kaki.

Dan disaat kita lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.

Sebelum kita menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak pernah bersalah, termasuk kita!

Sumber